Showing posts with label walisongo. Show all posts
Showing posts with label walisongo. Show all posts

Friday, 7 May 2021

KISAH SUNAN MURIA KUDUS BERDAKWAH DENGAN KESENIAN

 Sunan Muria adalah salah seorang peyebar Islam di Jawa yang tergabung dalam kelompok walisongo. Wilayah dakwah Sunan Muria meliputi Kudus, Pati dan sekitarnya terutama di daerah-daerah pedalaman seputar Gunung Muria.



Menurut latar belakang sejarah, ada beberapa versi mengenai silsilah Sunan Muria. Versi pertama menyebutkan bahwa Sunan Muria mempunyai nama kecil Raden Umar Said yang merupakan anak Sunan Kalijaga dari istrinya, Dewi Saroh putri Maulana Ishak.

Sunan Muria menikah dengan Sujinah anak dari Sunan Ngudung (Raden Usman Haji). Menurut cerita versi pertama ini, Sunan Muria memiliki hubungan kekerabatan dengan Sunan Kudus (Jafar Shadiq), yaitu saudara ipar karena Sunan Kudus adalah kakak Dewi Sujinah istri Sunan Muria.

Adapun versi kedua mengatakan bahwa Sunan Muria adalah putra Sunan Ngudung dari istrinya yang bernama Dewi Sarifah. Putra Sunan Ngudung lainnya antara lain Sunan Giri II, Sunan Kudus, dan Sunan Giri III.

Sedangkan hubungannya dengan Sunan Kalijaga adalah Sunan Kalijaga merupakan putra Tumenggung Wilatikta, Putra Ario Tejo III, Putra R. Penanggungan. Sedangkan Sunan Ngudung adalah putra Dewi Maduretno, putra R. Baribin, putra R. Penanggungan. Jadi menurut versi ini Sunan Muria adalah keponakan jauh Sunan Kalijaga.

Sunan Muria berdakwah dengan cara yang bijaksana dalam menghadapi masyarakat yang menjadi objek dakwahnya. Dakwah yang dilakukan Sunan Muria diselaraskan dengan keperayaan lama, adat yang bertentangan dengan ajaran Islam dilakukan dengan perlahan-lahan.

Sunan Muria juga dikenal berdakwah melalui kesenian. Salah satu tembang macapat hasil ciptaannya adalah Sinom dan Kinanti.

Gelar Sunan Muria disandangnya karena tempat berdakwah menyiarkan agama Islam terletak di kaki Gunung Muria. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, Sunan Muria membangun pesantren dan masjidnya di puncak gunung tersebut, persis di belakang masjid yang dibangunnya sendiri.

Sunan Muria dimakmkan di sebelah Barat bangunan masjid. Bangunan cungkup makam Sunan Muria mempunyai konstruksi kayu beratap Joglo dua susun. Atap bangunan ditutup dengan Sirap.

Dinding cungkup berupa tembok bata yang diplester semen. Di dalam cungkup ini selain Makam Sunan Muria, juga banyak dijumpai makam para kerabat Sunan Muria antara lain Dewi Sujinah (Istri Sunan Muria) dan Dewi Rukayah (Anak Sunan Muria).

Makam Sunan Muria terdapat di dalam kamar atau bilik yang berpintu. Dinding Makam Sunan Muria dibuat dari batu kapur yang berhias panel-panel. Jirat dan Makam Sunan Muria berbentuk sederhana seperti kebanyakan nisan tipe Demak. Gawang pintu biik makam Sunan Muria diberi pahatan, demikian juga daun pintu yang diukir dengan ragam hias yang sangat indah.

Wednesday, 5 May 2021

Kisah Wali Songo Sunan Kalijaga, Dakwah dengan Wayang dan Tembang Jawa


Kisah Wali Songo Sunan Kalijaga 
Sunan Kalijaga adalah tokoh penyebar agama Islam yang populer di Tanah Jawa khususnya Jawa Tengah. Ia berdakwah menggunakan metode yang sangat lekat dengan budaya masyarakat Jawa pada saat itu.

Wali Songo memiliki peran besar dalam sejarah masuknya agama Islam di Tanah Jawa. Sebagai pelopor Islam, kisah Wali Songo saat menyebarkan ajarannya patut menjadi suri tauladan bagi masyarakat.

Dikutip dalam Jurnal Wali Songo, wali merupakan sosok yang memiliki kelebihan atas kedekatannya dengan Allah SWT. Wali menjadi wasilah atau perantara antara manusia dengan Allah SWT.

Wali berasal dari bahasa Arab dari kata Waliyullah yang berarti orang yang dicintai dan mencintai Allah SWT. Sementara itu, Songo berasal dari bahasa Jawa yang berarti sembilan.

Sehingga kata Wali Songo diartikan sebagai sembilan orang yang mencintai dan dicintai Allah SWT. Mereka mengemban tugas suci untuk mengajarkan agama Islam.

Salah satu Wali Songo yang menyebarkan siar Islam di Jawa Tengah adalah Sunan Kalijaga.

Dikutip dari buku Sunan Kalijaga (Raden Said) karangan Yoyok Rahayu Basuki, Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1450 Masehi. Nama aslinya Raden Said. Ayahnya seorang adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur.

Sunan Kalijaga juga dikenal dengan Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

Dikisahkan, pada masa remaja Sunan Kalijaga suka merampok. Menurut berbagai sumber, tindakannya dilatarbelakangi oleh ketidakadilan yang dirasakan rakyat kecil karena mereka harus membayar pajak atau upeti.

Akhirnya ia membongkar gudang makanan lalu mencuri dan membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Namun, tindakan yang dilakukannya justru membuat ayahnya merasa malu. Sehingga ia diusir.

Dikisahkan pada suatu ketika, Sunan Kalijaga hendak merampok tanpa diketahui ternyata orang yang menjadi sasarannya adalah Sunan Bonang. Akhirnya Sunan Kalijaga dibimbing oleh Sunan Bonang untuk menjadi muridnya.

Inilah yang menjadi cikal bakal perubahan nama Raden Said menjadi Sunan Kalijaga hingga menjadi penerus dakwahnnya

Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga menggunakan metode yang lekat dengan kehidupan masyarakat. Pada saat itu masyarakat Jawa kental dengan seni dan budaya seperti wayang dan gamelan.

Agama yang tengah berkembang pada saat itu adalah Hindu dan Budha. Sunan Kalijaga pun gemar mempelajari ilmu mendalang dan seni kasustraan sebagai bekal strategi dakwahnya.

Tradisi masyarakat itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga sebagai jalan dakwahnya. Ia memasukkan ajaran-ajaran Islam melalui lakon (red kisah) pewayangan yang diiringi gamelan Jawa.

Beberapa kisah dalam pewayangan berhasil digubah oleh Sunan Kalijaga agar mudah diterima oleh masyarakat.

Selain wayang, Sunan Kalijaga juga menyebarkan ajaran Islam melalui tembang Jawa. Di antara lagunya yang terkenal adalah Lir-ilir, Turi-turi Putih, dan Lingsir Wengi. Karya lain yang ditinggalkan Sunan Kalijaga adalah Serat Dewaruci, kitab Suluk Linglung, dan Kidung Rumekso Ing Wengi.

Ajaran-ajaran yang disampaikan Sunan Kalijaga lewat wayang dan tembang Jawa mudah tersampaikan ke masyarakat. Itulah yang menjadi kelebihan Sunan Kalijaga dalam mengajarkan Islam di wilayah Jawa.

Dapatkan Berkah Lailatul Qadar dengan Bacaan Doa Puasa Ramadan Hari ke-27

  Beberapa ulama meyakini bahwa malam ke-27 di bulan Ramadan merupakan malam turunnya lailatul qadar. Oleh sebab itu, seluruh umat muslim di...